flatnews

Pilpres 2014, Pertarungan Lanjutan Jenderal Hijau vs Jenderal Abangan

Konstelasi politik menjelang ilpres semakin meningkat. nama-nama capres semakin mengerucut. Setidakya sampai saat ini nama Prabowo dan Jo...


Konstelasi politik menjelang ilpres semakin meningkat. nama-nama capres semakin mengerucut. Setidakya sampai saat ini nama Prabowo dan Jokowi lah yang paling kuat. Walau Jokowi bukan seorang tentara, namun aroma persaingan diantara para jenderal begitu terasa.

Prabowo dikenal lama sebagai perwira tinggi berwarna hijau. Kedekatannya dengan tokoh dan aktivis dakwah islam membawa warna sendiri. Semasa masih aktif sebagai tentara, Prabowo sudah dekat dengan Ahmad Sumargono, salah seorang pendiri PBB dan juga tokoh ICMI. Juga diawal 90-an sering menjalin komunitas aktivis muslim di kampus.

Katakanlah Fadli Zon dan Ahmad Muzani yang saat ini menjadi petinggi Gerindra. Keduanya adalah mantan politisi PBB dan memang lewat Ahmad Sumargono, menjadi sagat dekat dengan Prabowo. Kedekatan Prabowo dengan tokoh-tokoh islam tak lain karena di tubuh ABRI saat itu masih dikuasai kelompok Jenderal abangan dibawah komando Leonardus Benny Mordani. Hal ini membuat tokoh-tokoh islam dan partai islam lebih nyaman mendekat dan berkomunikasi dengan Prabowo.

Setidaknya sampai 90-an awal kekuatan Jenderal abangan masih sangat kuat. Kecemasan mereka mulai nampak, saat Presiden Soeharto mulai memberi kepercayaan ada BJ Habibie. Bahkan pada 1992 sebenarnya Habibie akan ditunjuk sebagai wapres. Namun keberhasilan lobi kubu Benny membuat Try Soetrisno didaulat sebagai wapres.

Namun move kubu Benny harus dibayar mahal, karena kedekatan Soeharto dengan kubu "hijau" tak terelakkan. Pembentukan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), koran Republika dan Bank Muamalat menandai perpindahan "loyalitas"seorang Soeharto. Mengambil kalimat Cak Nun, saat itu terjadi transformasi dalam diri Soeharto, dari seoarang Jawa Islam menjadi Islam Jawa.

Puncaknya saat tubuh TNI mulai diisi para perwira "santri", mulai dari Feisal Tandjung, Rudi Hartono, Wiranto dan Prabowo. Berlanjut sampai insiden penculikan aktivis 98 yang sampai saat ini masih sangat "gelap", siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab.

Di jaman BJ Habibie, BIN bahkan dipimpin oleh ZA Maulani. Seorang Letnan Jenderal yang sangat kental keislamannya. ZA Maulani juga seorang pencetus berdirinya alumni PII (Pelajar Islam Indonesia).

Rivalitas ini berlanjut sampai saat ini, tepatnya di pilpres. Kubu Jokowi tak sembarangan, didukung Jenderal "abangan". Sebut saja AM Hendropriyono, Ryamizard Ryacudu dan Luhut Panjaitan. AM Hendropriyono menjabat sebagai Kepala BIN (Badan Intelejen Negara) saat Megawati menjabat sebagai Presiden. Dimasa Hendropriyono-lah aktivis HAM Munir terbunuh dalam perjalanan ke Belanda.

Ryamizard Ryacudu adalah KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) jaman Megawati. Dia juga menantu dari Try Soetrisno. Dikenal sebagai perwira yang keras dan disiplin. Ryamizard-lah yang menumpahkan darah di Aceh pada jaman Megawati berkuasa, dengan alasan menumpas GAM (Gerakan Aceh Merdeka).  Luhut Panjaitan sendiri sebenarnya masih menjadi "tim sukses" Ical, namun juga sangat dekat dengan kubu jenderal abangan Jokowi.

Isu HAM akan menjadi isu hangat. Kedua kelompok jenderal ini punya pelurunya masing-masing. Hanya saja saat ini Prabowo lebih dihujani serangan, terlebih karena kubu jenderal abangan "hanya" menjadi timses Jokowi. Lalu kemanakah mandat tertinggi rakyat Indonesia akan berlabuh? (IDC)

Penulis: Ibnu Dwi Cahyo
Twitter: @Ibnucloudheart

Reactions: 

Related

Nasional 5010992694553381869

Post a Comment

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Promo Gamis SAMARAH

Random News

item