flatnews

Jokowi Bawa Indonesia Ikut Trans Pasific Partnership, Emang Itu Apa Sih???

Jadi begini, saya bukan ekonom. Bukan pulak ahli hubungan internasional. Dalam satu dan banyak hal, saya lebih tolol dari Anda-anda y...



Jadi begini, saya bukan ekonom. Bukan pulak ahli hubungan internasional. Dalam satu dan banyak hal, saya lebih tolol dari Anda-anda yang kurang kerjaan baca ini blog.
Kebetulan saja sewaktu ditugaskan ke Hawaii Mei lalu, saya belajar soal rencanarebalancing Amerika Serikat di Asia. Salah satu materinya tentang rencana kerja sama dagang Trans-Pacific Partnership (TPP).
Nah, setelah lama dirayu dan digoda, Presiden Joko Widodo menyatakan keinginan bergabung dalam TPP langsung sama Presiden Barrack Obama. Seberapa besar dampaknya buat Indonesia? (besar binggitz…) Baik apa buruk? (yaa gitu deh…) Berikut yang bisa saya bagikan.
TPP apaan sih?
Ia (rencana) perjanjian dagang 12 negara-negara di Pacific Rim yang dikomandoi oleh Amerika Serikat sejak 2008 walaupun mulanya adalah ide Singapura, Cili, dan Selandia Baru pada 2002.
Isi perjanjiannya apaan?
Di sini agak konyol. Belum ada yang tahu pasti kecuali menteri-menteri perdagangan yang bernegosiasi. Poin-poin dalam perjanjian itu dirahasiakan bahkan kepada parlemen-parlemen di negara-negara inisiator termasuk Amerika Serikat. SBY dulu ogah ikut-ikutan karena jengkel sama itu rahasia-rahasiaan. Meski begitu, pihak-pihak yang ember ada saja. Sejumlah bocoran kemudian menyeruak.
Apa saja coba?
Perjanjian itu kemungkinan mensyaratkan negara-negara anggotanya mencabut tarif dan kuota impor dari sesama anggota TPP. Ndak boleh lagi itu namanya proteksi produk dalam negeri, bahkan di bidang yang menguasai hajat hidup orang banyak macam pertanian.
Terus?
Negara-negara anggota nantinya harus menyepakati standar ketenagakerjaan serta perlindungan lingkungan hidup dan hak cipta. Pembatasan investasi luar negeri juga harus dicopot. Keberpihakan negara pada BUMN harus dihilangkan.
Ntar-ntar. Tadi kenapa Amerika ambil komando negosiasi?
Begini, sejak 2008 lalu AS sudah bosen main di Timur Tengah karena perang yang dia bikin, tak habis-habis. Dia orang juga malas sama Eropa yang sudahndak punya uang. AS kemudian berencana mengubah pivot ke Asia yang paling menjanjikan perekonomiannya. Eh, Tau-tau di Asia sudah ada Cina. Pengaruh Cina di ASEAN dan Asia Pasifik yang tambah lama tambah kuat itu kemudian bikin pemerintah AS galaw abis.
Namanya juga Amerika, dia orang kemudian mencoba bikin aturan sendiri untuk melemahkan Cina (ini Obama sendiri yang bilang). Dengan perjanjian dagang yang tak melibatkan Cina, atau setidaknya dengan aturan-aturan yang bisa melemahkan ekonomi Cina kalau dia bergabung (macam standar tenaga kerja), AS bakal mencoba setidaknya melepas ketergantungan dengan negara tersebut. Sejauh ini, peran politik dan militer AS di Asia sedikit banyak juga terbatas karena mereka tak berani frontal melawan Cina sebab ketergantungan ekonomi tersebut.
Bagaimana dengan negara-negara lain?
Masing-masing punya alasan sendiri, sebagian ujung-ujungnya Cina juga. Singapura mulanya hanya ingin meluaskan perdagangan, tapi belakangan butuh kerja sama dengan AS supaya ada yang jagain Selat Malaka dari kemungkinan menguatnya penguasaan Cina atas Laut Cina Selatan. Atawa Vietnam yang juga kebetulan bersengketa dengan Cina di Laut Cina Selatan tapi dikadalin terus karena terlampau tergantung ekonominya dengan Cina. Pokonya macem-macem dah.
Kenapa Indonesia dibujuk-bujuk ikutan?
Heloooww… kita orang punya jumlah penduduk paling banyak di Asia Pasifik, wilayah terluas, dan salah satu ekonomi terbesar. Menurut pandit-pandit, rencana melemahkan Cina, terutama di ASEAN, dengan TPP hanya bakal efisien jika Indonesia ikut serta.
Nah kalau sudah tahu ini perjanjian pepak dengan kepentingan AS, mengapa Jokowi pengen ikut?
Barangkali dia orang takut ketinggalan kereta. Karena di TPP, sudah bergabung tetangga-tetangga Indonesia macam Brunei, Singapura, Malaysia, Vietnam, Australia. Negara ini bisa jadi pariah ekonomi di regional.
Jadi sebenarnya ini barang bagus ndak buat Indonesia?
Tergantung.
Kok bisa?
Seperti Jokowi bilang, ada industri-industri dalam negeri yang bisa dapat untung dari perjanjian TPP. Misalnya tekstil karena saingan kita di antara anggota TPP lainnya Cuma Vietnam.
Bagaimana sektor lain?
Nah ini agak ruwet. Kalau benar tariff dan kuota impor tak boleh dibatasi, ia berbahaya buat pertanian dan peternakan, misalnya. Petani kita bisaamsyong kalau beras dari Vietnam tak boleh dibatasi. Sedangkan rencana pemerintah untuk swasembada sapi juga terancam gagal karena ada Australia yang tak boleh ditahan lagi impor sapinya di Indonesia.
Kalau ada kesepakatan standardisasi industri, nelayan kita juga bisa kena getahnya karena regulasi perikanan bakal sangat ketat. Tapi, di lain pihak, standardisasi ketenagakerjaan bisa membebaskan TKI-TKI kita dari perbudakan di kebun-kebun sawit Malaysia. Stadardisasi ketenagakerjaan juga bisa bikin buruh lebih sejahtera meski di sisi lain daya saing industri kita yang mengandalkan upah murah bakal tergerus.
Kalau buat konsumen bagaimana?
Tentu ada barang-barang, terutama yang digemari kelas menengah (ngehek), yang bakal jadi lebih murah. Tapi, katanya perjanjian soal standardisasi properti intelektual bisa bikin apotek-apotek tak boleh jual obat generik murah lagi karena terikat hak paten.
Tapi sebenarnya kita siap ndak ikut itu perjanjian?
Sekali lagi, tergantung. Sejauh ini, negara kita perekonomiannya masih berbasis konsumsi. Dengan status itu, kita sangat berpotensi hanya jadi pasar buat negara-negara anggota TPP lainnya. Tapi, buat yang punya optimisme berdosis tinggi, kesertaan dalam TPP juga bisa mendorong peralihan dari basis konsumsi itu ke basis produksi.
Jadi kesimpulannya bagaimana nih?
Ya belum ada kesimpulan. Orang kita juga masih rencana bergabung. Draf perjanjian resminya juga kita belum tahu. Lagi pula, draf itu bisa gagal kalau kongres AS menolak setuju.
Emang ada kemungkinan kongres ndak setuju?
Justru Partai Demokrat, yang partainya Obama bukan SBY, yang sejauh ini menyatakan penolakan. Dia orang menilai TPP hanya kepentingan pengusaha besar. Kalau tidak, buat apa ditutup-tutupi? Banyak senator Demokrat juga menilai TPP justru bakal membuat pengangguran meluas di AS. Kalau dalam masa kepemimpinan Obama TPP tak disetujui kongres, perjanjian itu juga terancam. Soalnya, kandidat presiden terkuat saat ini, Hillary Rodham Clinton, tak sepakat dengan TPP.
Jadi ngapain dirimu capek-capek bikin tanya jawab macam ini?
Karena perjanjian ini butuh perhatian banyak sekali orang. Jika nantinya disahkan dan kita ikut serta, ini perjanjian bakal punya dampak yang luar biasa, baik maupun buruk, buat Indonesia. Ia bukan hanya mempengaruhi angka-angka di papan bursa atau laporan akhir tahun perekonomian makro negara. Ia bakal punya pengaruh yang merentang dari taipan-taipan, kaum menengah sok kece, sampai para petani dan nelayan di pelosok-pelosok, juga buruh migran kita di luar negeri.
Emang ada yang baca blog dirimu?
Bangke… []

SUMBER: fitriyanzamzami
Reactions: 

Related

Nasional 1091041391749376476

Post a Comment

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Promo Gamis SAMARAH

Random News

item