flatnews

Virtual Reality Mengubah Bentuk Menjadi Nyata

Inovasi teknologi pada gadget atau aplikasi di era digital ini sangat cepat berkembang. Setiap fitur saling memperbarui, berlomba-lomba m...

Inovasi teknologi pada gadget atau aplikasi di era digital ini sangat cepat berkembang. Setiap fitur saling memperbarui, berlomba-lomba menjadi yang tercanggih dan paling efisien demi memudahkan hidup manusia. Tak jarang, kecanggihan teknologi terkini tersebut justru bisa mengecoh mata kita. Terutama jika teknologi digital tersebut secara visual terlihat menarik dan beda, seperti Virtual Reality (VR).
Bagi Anda yang update mengikuti perkembangan teknologi pastinya sudah pernah mendengar perangkat VR ini. Tapi, bagi Anda yang belum tahu bahkan belum pernah mencoba langsung perangkat tersebut, mungkin masih belum bisa membayangkan apa itu VR.
Secara garis besar VR merupakan teknologi visual 3 dimensi dalam komputer untuk menampilkan objek tertentu dimana Anda bisa berinteraksi di dalamnya. VR biasanya digunakan dalam game, dimana bentuk seperti gedung, jalan, lorong-lorong, kendaraan, senjata dan manusia di dalam gametersebut dirancang sedemikian rupa agar menyerupai apa yang ada di dunia nyata dengan menggunakan alat yang disebut Oculus Rift.
Oculus Rift ini bisa dikatakan alat yang pertama kali ditemukan untuk menikmati kecanggihan teknologi Virtual Reality. Bahkan kini, Oculus bekerja sama dengan Samsung untuk menciptakan Samsung Gear VR (Virtual Reality), sebuah teknologi terbaru VR yang terintegrasi ke dalam smartphone.
Lalu bagaimana teknologi VR agar bisa digunakan? Developer VR biasanya menggunakan sensor output yang disambungkan dengan sistem lingkungan virtual sehingga sistem ini bisa bereaksi sama dengan yang dilakukan pengguna secara real-time. Namun, stimulasi sensor ini harus konsisten dengan apa yang dirasakan saat pengguna mengalami dirinya hidup di dalam lingkungan virtual.
Namun, apakah sebenarnya keunggulan VR di masa depan?
Menurut Michael Abrash, seorang programmer terkemuka, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi agar sistem VR terwujud dengan sempurna. Yaitu bagaimana menyiasati agar infrastruktur teknologi VR yang terbilang mahal bisa “memasyarakat” serta menyempurnakan teknologi yang bisa mentranformasikan dunia virtual ke dunia nyata, dan juga sebaliknya.  Inilah yang membuat teknologi VR masih belum diluncurkan ke publik secara massif.
Namun, dalam upaya penyempuranaan tersebut, area-area lain juga sebenarnya  masih membutuhkan solusi, misalnya haptics atau komunikasi non-verbal, body tracking, input dan 3D audio.
Tapi tenang saja, masalah pada audio kini mulai teratasi dengan berkembangnya beberapa penyedia ekstensi untuk memprogram suara semacam Enviromental Audio Extensions (EAX), DirectSound, dan Open AL. Jadi, Anda bisa bersiap-siap untuk memasuki era Virtual Reality yang lebih mumpuni di tahun 2016 ini.

Sumber: Social Media Week Jakarta
Reactions: 

Related

Tekno 5301119726122825180

Post a Comment

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Promo Gamis SAMARAH

Random News

item