flatnews

Saatnya Indonesia Menjadi Leicester

Kemenangan Indonesia atas Thailand dalam leg pertama AFF Cup memang patut disyukuri. Masuk final saja kita sudah sangat bersyukur. Drama n...



Kemenangan Indonesia atas Thailand dalam leg pertama AFF Cup memang patut disyukuri. Masuk final saja kita sudah sangat bersyukur. Drama negeri ini terutama sepakbola memang belum berujung manis. Tahun 2010, saat Irfan Bachdim dan Gonzales baru masuk timnas, suasana juara sudah terasa. Sejak penyisihan timnas bermain apik, sayang di final timnas loyo dan harus kalah agregat gol dengan Malaysia.

Kini kondisi timnas sebenarnya tidak terlalu baik, bahkan dijadikan underdog turnamen. Berada satu grup dengan Thailand, Singapura dan Filiphina, Indonesia bahkan diprediksi akan menjadi juru kunci. Benar saja perasaan was-was itu mulai muncul saat Indonesia dihempaskan Thailand 2-4 pada pertandingan pertama.

Pun saat pertandingan kedua, Indonesia sudah unggul 1-0 atas Filiphina harus menelan pil pahit karena tuan rumah menyamakan kedudukan di menit-menit akhir, lewat tendangan bebas Philip Younghusband. Di pertandingan penentuan melawan Singapura, Indonesia tertekan sepanjang babak pertama dan akhirnya kebobolan juga. Namun tak ada yang menyangka timnas mampu membalikkan keadaan lewat Andik dan Lilipaly.

Perjalanan ke final ini ibarat cerita dongeng. Beberapa negara dengan situasi bola dan politik yang tak jelas pernah merasakan manisnya juara. Katakanlah Italia saat mereka juara dunia 2006. Saat itu publik bola Italia digemparkan oleh kasus Calciopoli yang melibatkan klub besar mereka, Juventus dan AC Milan. Nyatanya dengan situasi yang sulit, mereka malah berhasil menjadi juara dunia.

Di Asia ada Irak yang menjadi juara pialan asia 2007. Pasca invasi AS ke negara itu pada 2003, situasi politik belum stabil, bahkan sampai saat ini. Tentu kita sebagai tuan rumah bisa menyaksikan perjuangan Younis Mahmud cs saat mengalahkan lawan-lawannya.

Masuk final kelima kalinya, Indonesia layak untuk jadi juara. Alih-alih disamakan dengan Arsenal yang selalu masuk liga champions namun tak pernah juara sejak 2004, Indonesia lebih cocok mengikuti jejak Leicester. Sebagai tim yang tak diunggulkan bisa meraih gelar juara.

Indonesia pun gaya bermainnya tak jauh beda dengan tim besutan Claudio Ranieri. Bermain dengan 4-4-2. Riedl memainkan permain konservatif bertahan dan melakukan umpan-umpan panjang saat menyerang.

Kunci penting untuk juara di Rajamanggal Tahilang besok adalah mental dan konsentrasi. Beberapa kesalahan sepele yang terjadi di laga pertama sebisa mungkin dihindari. Thailand akan menyerang habis-habisan sejak awal, bila timnas bisa mencuri kesempatan serangan balik, peluang besar juara di depan mata.

Indonesia punya pelari-pelari cepat untuk menggantikan Andik yang cedera. Ada Bayu Gatra, Zulham Zamrun, bahkan Evan Dimas juga bisa dipasang untuk ikut menekan barisan tengah Thailand.


Editor: IDC
Reactions: 

Related

Headline 1083328455291179600

Post a Comment

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Promo Gamis SAMARAH

Random News

item