flatnews

SARI ROTI; TENTANG BOIKOT, KAPITALISME, DAN KEMERDEKAAN KONSUMEN

Dua status yang saya posting screenshotnya ini sama-sama viral di facebook hari ini. Sama-sama sudah dishare ribuan kali dan mengundang ko...



Dua status yang saya posting screenshotnya ini sama-sama viral di facebook hari ini. Sama-sama sudah dishare ribuan kali dan mengundang komentar ribuan facebooker. Topiknya sama, sari roti. Sepertinya topik ini masih cukup hangat di jagad medsos, belum sepenuhnya tergeser oleh isu-isu lain yang mulai bermunculan.

Status pertama menyoroti tumpukan roti di supermarket yang tidak laku, dan status kedua menyoroti nasib penjual roti keliling yang jualannya tidak laku.
Status pertama didominasi komentator-komentator yang pro 'boikot' sedangkan status kedua didominasi oleh mereka yang kontra 'boikot'.

Kesimpulan sementara: Sikap jamaah fesbukiyah terhadap aksi boikot sari roti dipengaruhi oleh persepsi masing-masing terhadap aksi 212. Para pendukung 212 biasanya juga mendukung boikot. Sedangkan mereka yang sejak awal tidak setuju terhadap aksi 212 (apalagi ahoker) otomatis juga akan menentang boikot. Simpati terhadap mamang-mamang penjual roti keliling hanyalah reaksi ikutannya saja, bukan alasan utama.

Tentu saja tidak mutlak begitu, tapi sebagian besarnya.

Aksi boikot terhadap suatu produk bukan baru sekali ini terjadi, bahkan bisa dibilang sudah biasa. Kita pernah mendengar aksi boikot produk Israel, yang bahkan dinyatakan oleh Presiden Jokowi dalam pidatonya (walau kemudian diralat), yang dipicu oleh serangan Israel ke Gaza. Ada pula boikot tisu paseo, nice, dll produk Asia Pulp & Paper (Sinar Mas Group) akibat isu kabut asap tahun 2015 yang disuarakan aktivis Walhi Melanie Subono dan komunitas Projo (pro jokowi), bahkan masih berlanjut hingga kini oleh jaringan supermarket di Singapura. Bahkan ada aksi boikot produk yang diinisiasi oleh karyawan perusahaannya sendiri sebagai protes atas perlakuan perusahaan terhadap karyawan, misalnya pernah terjadi pada PT. Unilever Indonesia, dan juga pada Sari Roti beberapa waktu lalu.

Perlu dicatat, belum pernah terjadi satu perusahaan betul-betul tutup alias bangkrut akibat aksi boikot. Mungkin merugi iya, tapi kalau sampai tutup tidak. Kalau itu sampai terjadi pada Sari Roti, maka itu catatan rekor baru dalam dunia bisnis. Para pendukung boikot Sari Roti saat ini sebaiknya tidak berangan terlalu muluk untuk membangkrutkan Sari Roti. Tidak semudah itu.

Sari Roti bukan usaha roti rumahan. Ini perusahaan milik konglomerat besar. Ini perusahaan kapitalis sejati, bukan UKM. Dengan modal besar dan pondasi bisnis yang kuat, banyak cara bisa dilakukan oleh Sari Roti untuk tetap bertahan. Lihat pergerakan sahamnya di lantai bursa, dengan mudah naik kembali setelah sempat tertekan 1-2 hari. Mungkin ada beberapa orang yang ketakutan melihat aksi boikot lantas buru-buru melepas sahamnya, tapi ada kekuatan modal besar yang memborong kembali saham itu untuk mencegah kejatuhannya.

Rotinya tidak laku? Itu bukan masalah besar bagi perusahaan sekelas Sari Roti. Mereka akan segera menemukan cara untuk menjual produknya kembali. Mereka menguasai jaringan distribusi dan punya link bisnis yang kuat. Misalnya, dengan mewajibkan perusahaan-perusahaan lain di bawah Salim Group untuk membeli produk Sari Roti, itu saja sudah cukup membuat mereka bertahan. Pun, bila citra Sari Roti tidak bisa diselamatkan lagi, mereka sangat mudah untuk menggantinya dengan brand name yang baru. Merugi, iya pasti, tapi kalau bangkrut, masih jauh.

Apakah tidak mungkin Sari Roti bangkrut akibat aksi boikot? Tentu saja mungkin, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Lihat perusahaan sebesar Nokia, Sony, dll pun bisa runtuh akibat produknya gagal bersaing di pasaran, padahal dulu sempat merajai dunia bisnis. Hanya saja kalau diharap runtuhnya akibat aksi boikot semata, tidak semudah itu.

Pendukung aksi 212 tidak perlu mentargetkan kebangkrutan Sari Roti sebagai tujuan. Kebangkrutan mereka tidak menguntungkan siapa-siapa. Tidak lazim aksi boikot mentargetkan kebangkrutan perusahaan sebagai tujuan. Aksi boikot produk adalah aksi ideologis, bukan perang bisnis. Tujuan utamanya adalah perusahaan yang ditarget menerima/mengakui pesan yang disampaikan pemboikot. Itu saja.

Mengambil contoh boikot produk Sinar Mas beberapa waktu lalu, walaupun didukung resmi jaringan supermarket di Singapura, toh efeknya secara penjualan tidak besar. Managing Director Sinar Mas, Gandi Sulistiyanto, Selasa (13/10/2015), mengatakan aksi boikot tersebut merupakan peringatan bagi perusahaannya. “Secara penjualan, tidak signifikan. Ini lebih ke masalah citra. Ini warning serius bagi kami,” kata Gandi.

Boikot sari roti yang menjadi trending topic masif di media sosial, terpaksa diakui oleh PT. NIC sebagai produsen roti telah menghancurkan citra produk tersebut. Jelas mereka mengakuinya, walaupun tidak ada pernyataan resmi. Saat ini sangat sulit bagi PT. NIC untuk merilis pernyataan apapun setelah klarifikasi blundernya kemarin. Bila tetap ngeyel dengan pernyataan kemarin pasti makin memperburuk keadaan, tapi bila menjilat ludah sendiri justru makin dibully. Serba salah, memang. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah menghapus postingan klarifikasi tersebut di websitenya www.sariroti.com, dan kemudian menutup website tersebut (walau dibuat drama dulu seolah-olah di-hack), kemudian menunggu suasana cooling down.

Di titik ini saja, sebenarnya kaum pemboikot sudah menang. Sudah tercapai tujuannya. Sudah berhasil menolak pernyataan sari roti yang (entah disengaja atau karena ketololannya semata) mengesankan aksi 212 adalah kegiatan politik yang bertentangan dengan keutuhan NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.
Para pemboikot sudah berhasil mencitrakan sari roti sebagai produk perusahaan yang tidak pro-umat Islam, dan citra semacam itu sangat-sangat buruk untuk bisnis mereka.

Kecil kemungkinan perusahaan itu berani macam-macam lagi bicara sembarangan tentang aksi umat Islam. Dan peristiwa ini pasti diamati juga oleh sebagian besar perusahaan lain di Indonesia. Takkan ada lagi yang berani sembarangan. Business is business. Pemilik perusahaan bisa saja punya ideologi bermacam-macam, bahkan atheis sekalipun, tapi takkan ada yang mau dicitrakan buruk melawan konsumen terbesar di negeri ini, umat Islam.

Yang LUCU adalah munculnya status-status yang bersimpati terhadap mamang-mamang gowes penjual roti keliling. Sebenarnya wajar kalau melihat siapa thread starter (TS)-nya, rata-rata status macam itu dibuat oleh mereka yang sejak awal memang kontra 212 (bahkan bisa dibilang, pendukung ahok). Hampir tidak mungkin pihak situ akan diam seribu bahasa melihat kampanye boikot sari roti menyebar luas tanpa counter attack sama sekali.

Mengapa lucu?
Karena sebagai TS yang menyatakan simpati dan kasihan terhadap mamang-mamang gowes penjual roti keliling, tindakan mereka menyebar status anti-boikot tersebut bukannya akan menolong melainkan malah memperburuk nasib mamang-mamang tersebut. Ini bukan hanya lucu, bahkan IRONIS.

Kok bisa?
Iya, karena mereka tidak memahami aspek psikologis aksi pemboikotan publik.

Aksi boikot sari roti bukanlah boikot resmi institusi. Ini bukan seperti boikot supermarket Singapura terhadap APP, bukan seperti boikot maskapai penerbangan internasional terhadap produk Samsung Galaxy Note 7. Boikot resmi institusi jelas efektif karena dilakukan dengan kekuasaan atau kewenangan tertentu. Beda dengan boikot publik.

Boikot sari roti adalah boikot publik. Basisnya adalah kesukarelaan (involuntary) semata, bukan atas dasar kuasa atau kewenangan tertentu. Siapa mau boikot silakan, yang tidak mau juga tidak apa-apa. Tidak ada paksaan, tidak ada keharusan.

Mengapa mereka sukarela memboikot? Pasti ada pemicunya.
Boikot publik pemicunya hampir selalu adalah kemarahan, kekecewaan, atau ketidaksetujuan tertentu terhadap objek yang diboikot. Selama kemarahan mereka masih membara, maka selama itu pula boikot akan terus berjalan.

Publik yang marah tidak bisa dipaksa atau dihentikan dengan pernyataan "Kamu tidak boleh marah!" "Kamu tidak boleh tersinggung!" Kemarahan letaknya di dalam hati. Itu soal perasaan, hanya yang punya perasaan saja yang paham, tidak bisa dikontrol oleh orang lain. Sia-sia belaka beradu argumen ataupun berbagi logika di wilayah ini.

Produsen sari roti pasti paham betul tentang hal itu. Maka sampai hari ini mereka diam, tidak mengeluarkan pernyataan apa pun. Mereka tidak melawan atau membantah sedikit pun. Karena setiap pedagang yang berpengalaman tahu, bahwa pantang bagi mereka berdebat dengan pembeli. Perdebatan antara penjual dengan pembeli tidak pernah menghasilkan kemenangan bagi penjual. Kalaupun penjual bisa memenangkan perdebatan dengan telak, pembeli yang tidak senang akan batal membeli, dan itu hakikatnya adalah kekalahan.

"Pembeli adalah raja," itu pepatah kuno yang masih relevan hingga sekarang.

Sikap produsen sari roti saat ini sudah benar. Diam dulu, tunggu hingga keadaan tenang. Cooling down. Berdasarkan pengalaman, seburuk-buruknya badai di bidang marketing, tidak akan terjadi selamanya. Ada saatnya badai akan reda, publik kembali tenang, isu ini tergusur oleh isu-isu lain, dan saat itulah perusahaan bisa kembali menggenjot mesin marketingnya kembali.
Lihat bagaimana perusahaan bumbu masak Ajinomoto, yang pernah terpuruk merugi ratusan milyar akibat isu boikot karena menggunakan enzim babi dalam proses produksinya, akhirnya bisa bangkit juga lagi setelah memperbaiki kehalalan produknya.

Ajinomoto tidak pernah ngotot bilang, "Enzim babi tidak haram digunakan dalam proses produksi, kan produk akhirnya tidak mengandung babi?!" (walaupun ada banyak ulama di luar MUI mendukung pemahaman ini).
Ajinomoto tidak pernah ngotot bilang, "Kami tidak butuh label halal dari MUI, silakan yang mau beli produk kami, yang tidak mau beli ya sudah!"
Ajinomoto tidak pernah berkilah mengatakan, "Jangan boikot produk kami. Ada ribuan karyawan muslim menggantungkan hidupnya di perusahaan kami. Tega sekali kalian pada sesama muslim!"
Tidak. Ajinomoto tidak melakukan itu. Mereka memilih untuk mengalah, menarik semua produknya yang dinyatakan tidak halal dan memperbaiki proses produksinya. Rugi, memang, tapi perusahaan itu tetap bertahan.

Sikap produsen sari roti yang sudah "on the track" itu terganggu oleh status-status baper dari para kontra aksi 212. Anti boikot yang diungkap masif di media sosial, dengan segala macam pernyataan dan meme yang menjelekkan para pemboikot, akan membuat para pemboikot makin marah dan tersinggung. Dan semakin lama mereka marah, semakin lama pula boikot berlangsung, semakin lama mesin marketing perusahaan menunggu bangkit, maka semakin sulit kondisi yang dihadapi mamang-mamang gowes penjual roti keliling itu.

Mengamati kata-kata yang dilontarkan para anti-boikot, contoh saja:
▪ Katanya bela Islam, tapi kok roti yang dimusuhi, situ sehat?
▪ Islam melarang kita mengharamkan yang halal. Roti halal kok diharamkan!
▪ Dasar otak penuh kebencian, sampai roti pun dimusuhi. Islam kok kayak gitu?!
▪ Boikot tuh rokok yang diharamkan MUI. Kawal tuh fatwa MUI yang itu!
▪ Emang loe mau nanggung hidupnya mamang2 yang kehilangan kerjaan?
▪ Dasar onta! Sumbu pendek!

Kecil kemungkinan kata-kata semacam itu akan membuat para pemboikot "sadar" lantas berhenti memboikot dan memborong sari roti rame-rame. Tidak mungkinlah. Yang ada juga suasana jadi makin panas dan mereka lebih semangat memboikot.

Kalaupun memang anti-boikot, sebaiknya memahami dulu proses bagaimana boikot itu terjadi, supaya kritiknya tidak asal-asalan. Kritik yang asal-asalan tidak akan didengar, bahkan akan diserang balik. Setidaknya pahami, memboikot tidak sama dengan mengharamkan, itu beda sekali. Memboikot bukan memusuhi produknya, melainkan menentang pendapat/pernyataan/kebijakan tertentu dari produsennya. Jangan keluar konteks, soal rokok itu di luar konteks. Tentang nasib karyawan dan penjual sari roti, akan aneh kalau itu dibebankan pada para pemboikot. Sejak kapan pembeli diwajibkan bertanggungjawab atas nasib penjual?

Sebenarnya, para anti-boikot tidak perlu bersusah hati begitu rupa. Sari Roti tidak semudah itu akan bangkrut begitu saja. Bahkan seandainya pemboikotan ini berjalan hingga sepuluh tahun lagi pun, tidak akan kiamat.
Sebesar-besarnya jumlah komunitas pro 212, tetap masih ada kelompok masyarakat yang tidak pro, dan mereka ini tetap berpotensi menjadi pelanggan setia sari roti. Bahkan seandainya pangsa pasar sari roti turun 50% pun perusahaan ini tetap akan bertahan.

Marketing perusahaan (termasuk di dalamnya mamang-mamang gowes) cepat atau lambat akan memetakan konsumen, yang mana yang masih setia dengan sari roti. Kalau kalian ingin membantu memudahkan pemetaan itu, silakan tulis di pintu pagar rumah masing-masing: KAMI MASIH SETIA DENGAN SARI ROTI (misalnya).

Lebih keren lagi kalau kalian meningkatkan jatah pembelian sari roti hingga 2-3x lipat. Itu lebih bermanfaat daripada membully kaum pemboikot yang pasti akan tetap bertahan pada kemarahannya. Ingat, pembeli adalah raja. Mau membeli atau tidak, itu hak mereka.

Biarlah mereka yang tidak mau membeli roti produk kapitalis besar seperti sari roti ini mengalihkan aliran uangnya ke produk UKM lokal, yang selama ini sudah kembang-kempis digencet kapitalis besar seolah tidak punya hak hidup di republik ini.

Tapi tentu saja ini kembali pada niat hati para penyebar status antiboikot tersebut. Memang murni simpati pada mamang-mamang gowes tersebut, atau sebenarnya hanya memanfaatkan celah untuk melakukan counter attack.
Bisa saja sebenarnya bukan sari roti yang dibela, tapi si nganu yang lain. Semoga tidak demikian.

Terakhir, yang bisa diharapkan dari kejadian ini, adalah masing-masing pihak mengambil hikmahnya. Win-win solutionnya adalah: pangsa pasar tetap ramai, tapi terbagi proporsional antara produk kapitalis besar (diantaranya, sari roti) dengan produk pengusaha lokal, UKM/rumahan.
Kapitalis punya konsumen setianya sendiri, dan pengusaha rumahan juga punya konsumen setianya sendiri. Masing-masing berhak hidup, tidak perlu yang satu mematikan yang lain.

Semoga.
Reactions: 

Related

Nasional 6454930201016135247

Post a Comment

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Promo Gamis SAMARAH

Random News

item