flatnews

Begini Skenario Game of Thrones Timur Tengah

Banyak pihak meyakini bahwa Timur Tengah saat ini di ambang perang baru, jangan sampai terlena dengan hal-hal kecil seperti pengunduran...


Banyak pihak meyakini bahwa Timur Tengah saat ini di ambang perang baru, jangan sampai terlena dengan hal-hal kecil seperti pengunduran diri PM. Lebanon ataupun pencidukan terhadap para Pangeran dan Bisnisman oleh KPK Saudi, sehingga terlewat scenario besar yang sedang dirancang secara sembunyi-sembunyi. Sebenarnya, yang lebih penting adalah fase setelah “Internal Cleansing” yang dilakukan oleh CP Muhammad bin Salman, “Internal Cleansing” ini hanyalah mukaddimah kecil untuk scenario yang lebih besar dan lebih berbahaya dan mungkin akan mengubah wajah Timur Tengah. I mean it!

Apa yang sedang terjadi sekarang merupakan rencana yang sudah dibuat secara detail dan matang, ini adalah pra-kondisi sebelum pecahnya perang “Sectarian” yang dibungkus dengan nama “Nasionalisme Arab”, padahal tujuan utamanya adalah menghancurkan hegemoni “Syiah Iran” yang sedang bangkit di Kawasan, utamanya sayap militer Syiah di Irak, Yaman dan Lebanon yang semakin menggurita.

Orde Arab Saudi Lama sudah berakhir, hegemoni Wahabi sudah di episode terakhir kalau tidak mau dikatakan sudah dikubur di dalam buku-buku klasik. Generasi ke 4 Dinasti Saud adalah Era Baru bagi masa depan Saudi. Aliansi baru akan dibentuk, dan itu jelas dari pernyataan sang CP Muhammad selaku Man of The Match, “Bantuan misil Iran kepada militan Yaman merupakan deklarasi perang kepada KSA”. Hal itu diungkapkan Bin Salman kepada Menlu Inggris Boris Johnson, dan hal yang sama didukung oleh Pentagon melalui Nikki Haley, Watap AS di PBB. Aliansi jelas sudah disusun dan dinahkodai oleh AS.

Katanya, untuk mengetahui sejauh mana keseriusan sebuah krisis, atau gerakan politik dan militer di suatu Kawasan, coba lihat bagaimana pergerakan harga Migas dan pergerakan bursa saham, apakah naik atau turun. Katanya ini adalah thermometer paling akurat di dunia Kapitalis Barat.

Harga minyak kemarin berada di titik tertinggi selama dua tahun terakhir, Bursa Teluk secara umum mengalami penurunan. Khususnya bursa Saudi mengalami kerugian sampai 3 persen, pergerakan penjualan melebihi pergerakan pembelian. Film belum dimulai, thermometer sudah mengkhawatirkan.

Kemarin, Houthi Yaman menembakkan sebuah misil ke Riyadh, meskipun mampu ditangkal oleh Arhanud Saudi, namun pecahan misil jatuh di seputaran Airport King Khalid. Houthi mengancam akan menghajar seluruh Airport dan Seaport Saudi dan Emirates, biasanya mereka kalau janji ditepati! Karena bagi mereka “nothing to lose” setelah dibombardir habis-habisan selama 3 tahun.

Fase pertama “Internal Cleansing” yang dilakukan CP Bin Salman dengan menciduk beberapa Pangeran, Bisnisman, dan Birokrat dengan tuduhan korupsi sampai saat ini telah berjalan aman dan lancar. Bin Salman sampai saat ini masih menguasai 4 sektor utama dalam negeri; Ekonomi, Media, Militer dan Haiat Kibar Ulama. Untuk sementara seluruh Oposisi sudah diamankan di dalam “Hotel Mewah”.

Mungkin dalam beberapa minggu ke depan, kita akan menyaksikan fase selanjutnya, dan ini lebih berbahaya dari fase pertama, yaitu Agresi Militer. Kalau boleh “mengarang”, mungkin scenario selanjutnya akan terjadi seperti ini:

Pertama: Military Clash antara Saudi dan Iran dengan latar belakang krisis Yaman, Saudi akan menutup seluruh perbatasan Darat, Laut dan Udara Yaman, guna menghalangi masuknya bantuan Iran ke Yaman.

Kedua: Pembentukan Aliansi Baru, seperti Operation Desert Shield yang dibuat oleh Jendral Norman Schwarzkopf Jr. pada tahun 1990 untuk mengeluarkan pasukan Irak dari Kuwait. Beberapa negara yang diprediksikan akan bergabung dalam Aliansi baru itu adalah Mesir, Emirates, Jordan, Sudan dan Maroko.

Ketiga: Intervensi militer ke Lebanon, seluruh infrastruktur Lebanon akan dilumpuhkan dengan tujuan untuk menghancurkan Hizbullah. Dalam kondisi seperti ini, mungkin Hizbullah akan menghujani ribuan misilnya ke Israel, di titik ini mungkin Iran dan Suriah akan intervensi habis-habisan.

Keempat: Pasukan Mesir, Saudi dan Emirates memasuki Qatar untuk menjatuhkan Pemerintahan Doha. Mungkin, pasukan Mesir, Saudi dan Emirates harus berhadapan dengan 30 ribu pasukan Turki yang saat ini sudah berada di Qatar dengan persenjataan lengkap. Tampaknya Presiden Recep Tayyip Erdogan sudah merasakan adanya scenario tersebut, makanya kemarin malam mengutus Menhan Turki, Nurettin Canikli ke Doha secara mendadak.

Kelima: Ekspansi militer AS, Saudi dan Israel ke Suriah untuk merebut kembali wailayah-wilayah yang dulunya pernah dikuasia oleh sekutu AS, seperti Aleppo, Homs dan Dier Zour. AS tidak akan mudah melupakan kekalahannya di Suriah di depan Iran dan Rusia. Namun, kalau sampai itu terjadi, dapat dipastikan mereka akan bentrok dengan Rusia, mengingat AS lah yang menggagalkan Syrian Congress di Sochi dengan menekan Oposisi Suriah agar tidak hadir!

Keenam: Penggerakan milisi Kurdi di Suriah dan Irak untuk berperang bersama AS guna menghabisi Irak, Iran, dan Turki.

Itu scenario kalau berjalan sesuai dengan prediksi maka kubu Iran, Turki dan Irak akan berakhir. Tapi, apa yang terjadi dengan Kawasan kalau memang skenarion gagal?

Kubu sebelah, Aliansi Iran, Irak, Turki dan Suriah mungkin akan didampingi Rusia, tapi tidak dapat dipastikan juga, karena Rusia masih berspekulasi dan sangat berhati-hati dalam menyikapi perkembangan terakhir ini.

Kubu Iran Cs juga tidak bisa dipandang sebelah mata, kubu ini memiliki misil dan rudal dalam jumlah besar dan canggih yang siap menghujani Israel, Saudi dan Emirates. Di sisi lain, Kubu Saudi Cs memiliki pertahanan udara yang luar biasa, mereka memilik pertahanan udara Patriot yang setidaknya dapat diandalkan untuk menangkal misil dan rudal-rudal Kubu sebelah.

Seorang pengamat militer Inggris mengatakan kalau Hizbullah menghujani 1000 roket dan misil ke Israel dalam waktu yang sama, apalagi kalau Hamas juga ikutan, maka besar kemungkinan "Iron Dome" Israel akan lumpuh. Kalau Hizbullah selaku “cabangnya” Iran saja memiliki 150 ribu roket, berapa yang dimiliki Iran selaku induknya? Apa pertahanan udara Patriot mampu menghandle semua itu dalam waktu yang sama? Belum lagi kalau roket dan rudal Suriah ikutan meluncur?

Untuk menahan 1 serangan misil Burkan H-2 (Volcano H-2) yang dilepaskan oleh Houthi kemarin ke Riyadh membutuhkan 6 misil Patriot, if so memang ada berapa misil Patriot di gudang Saudi dan Emirates untuk menangkal ribuan misil dan rudal kubu sebelah? Namun demikian, Saudi dan Emirates memiliki pesawat tempur F-16 dan F-15 buatan AS, Panavia Tornado buatan Inggris dan Eurofighter Typhoon yang cukup canggih.

Kalau scenario berhasil dan berjalan sesuai dengan rencana, maka Iran akan hancur, pemerintahan di Doha akan berganti sesuai “pesanan”, dan Hizbullah akan tinggal sejarah. Tapi, kalau skenario gagal, maka Emirates, Israel akan hancur dan Arab Saudi akan pecah menjadi negara-negara kecil.

Sumber: FB Saief Alemdar
Reactions: 

Related

Internasional 4784802519417669164

Post a Comment

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Promo Gamis SAMARAH

Random News

item