flatnews

Apakah Mualaf Bisa Mengajukan Permohonan Pengesahan Nikah ke Pengadilan Agama? Apakah Harus Akad Lagi?

P: Apakah muallaf bisa mengajukan permohonan pengesahan nikah ke Pengadilan Agama? Apakah muallaf tersebut perlu melaksanakan akad baru J: T...



P: Apakah muallaf bisa mengajukan permohonan pengesahan nikah ke Pengadilan Agama? Apakah muallaf tersebut perlu melaksanakan akad baru


J: Terdapat beberapa pendapat mengenai hal tersebut:
1. Pengadilan dapat menerima dan memeriksa permohonan tersebut, tanpa melaksanakan akad baru. Ketiadaan akad baru disandarkan pada hadis, tentang seseorang yang masuk Islam pada masa Nabi Muhammad s.a.w tanpa melaksanakan akad baru (dinyatakan bahwa perkawinan sebelum ia masuk Islam tetap sah). Pemeriksaan dilaksanakan sebagaimana sidang Itsbat lain yang didasarkan pada KHI Pasal 7 huruf e.

2. Pengadilan menyatakan tidak dapat diterima. Hal ini dikarenakan menurut hadis, pernikahan sebelum masuk Islam tetap sah. Maka tidak ada kewenangan pengadilan atas perkara tersebut. Pengadilan dalam hal ini dapat menasehati para pihak untuk mencatatkan pernikahan kepada Catatan Sipil.
Catatan: pelaksanaan pernikahan selain Islam dilakukan oleh otoritas keagamaan tersebut, dengan bukti surat nikah (Contoh : Nasrani Surat Pemberkatan dari Gereja).

3. Pengadilan menyatakan tidak menerima dan menasehati pihak untuk melaksanakan akad baru. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa keabsahan nikah setiap agama berbeda. Islam memiliki rukun dan syarat nikah tersendiri. Maka tidak bisa mengkonversikan ketentuan pernikahan non Islam ke ketentuan pernikahan Islam.

P: Bagaimana status pernikahan siri adat? (Misal pada masyarakat batak dikenal Pasu-Pasu)

J: Pernikahan adalah sah jika dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaan para pihak. Sehingga, apabila pada pernikahan siri tersebut mendasarkan pada kepercayaan adat, maka untuk dicatatkan ia memerlukan surat dari penghulu kepercayaan adat tersebut. Adapun bagaimana pelaksanaan di pengadilan telah terangkum pada jawaban sebelumnya.

Sedangkan apabila pernikahan siri tersebut tidak dilakukan oleh otoritas keagamaan/kepercayaan yang berwenang (mampu menerbitkan akta autentik); sebagai contoh dilakukan oleh tetua keluarga. Maka ketika ia masuk Islam perlu untuk melaksanakan akad baru.

Catatan: kondisi disebabkan karena pada agama adanya kesatuan lembaga/otoritas keagamaan dan pencatatan (kenegaraan), yaitu KUA.

Sumber IG Reza Kresna Adipraya
Tanya Jawab Hukum
Reaksi: 

Related

Kampus 5653788141522328863

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Random News

item