flatnews

Whatsapp Berbahaya Bagi Kita Karena Tidak Ada Perlindungan Data Pribadi di Indonesia

Dalam sebuah kesempatan wawancara pemilik FB Mark Zuckerberg ditanya anggota konres AS, darimana FB mendapatkan pemasukan jika u...


Dalam sebuah kesempatan wawancara pemilik FB Mark Zuckerberg ditanya anggota konres AS, darimana FB mendapatkan pemasukan jika untuk menggunakan servisnya para netizen tidak dikenai biaya. Pertanyaan mendasar ini sekarang perlahan bisa dijelaskan jawabannya ke publik yang awam.

Raksasa teknologi yang sebagian besar dari AS ini mempunyai model bisnis data, bisnis software dan hardware. Microsoft termasuk yang mengelola ketiga bisnis tersebut, windows dan office sudah menguasai dunia, perusahaan besutan Bill gates juga sudah jualan tablet dan laptop tipis. Namun satu hal yang tidak bisa Microsoft kejar dari FB dan Google adalah bisnis data.

FB terutama adalah pendatang baru yang belum genap 2 dasawarsa teleh menjadi pemain penting dalam bisnis data, selain Google. Parahnya lagi FB menguasai media sosial dengan FB, Instagram dan Whatsapp. FB kini mengintegrasikan 3 platform tersebut dengan mengais data para pemakainya untuk selanjutnya dijual ke para pengiklan maupun pihak lain yang menginginkan data tersebut.

Data ini ternyata di Indonesia belum mendapatkan perhatian serius dari negara. Masalah utamanya adalah mengapa kita tidak bisa apa-apa karena tidak ada perangkat UU yang melindungi data masyarakat. Yang dilakukan FB terhadap WA ini sebenarnya sudah lama dilakukan di FB dan Instagram, mengambil data masyarakat seperti interest-nya apa saja dan itu dilempar untuk keperluan iklan para marketer. Iklannya bisa komersial atau iklan politik serta kegiatan sosial, jadi bukan hal baru.

Yang menjadi masalah adalah WA merupakan platform tertutup yang digunakan untuk chat dan ngobrol apa saja, dari yang rahasia sampai yang terbuka. Tidak menjadi masalah di FB dan IG karena itu platform terbuka, orang posting sesuatu diketahui banyak orang.

Yang menjadi pertanyaan adalah sejauhmana WA dibaca datanya oleh FB, memang yang dilempar datanya ke pengiklan adalah demografi, interest dan semacamnya.

Uni Eropa sendiri dengan UU PDPnya bernama General Data Protection Regulation atau GDPR berhasil memaksa Google dan FB untuk membatasi iklan mereka dan melindungi masyarakatnya dari eksploitasi data mining.

Yang terjadi di negara uni eropa adalah setiap marketer FB misalnya harus memberikan akses kepada pemilik data yang menjadi target iklan untuk mengetahui data mereka dipakai untuk apa saja dan harus ada kesempatan bagi mereka untuk menolak dijadikan objek iklan. 

Misalnya dalam menggunakan fitur FB Pixel dimana data diambil dari cookies para pengunjung website, pemilik platform web harus memberikan keterangan diawal saat seaeorang berkunjung bahwa data mereka juga digunakan untuk keperluan marekting dan sebagainya termasuk FB ads. Ini belum ada di Indonesia sehingga data kita sangat mudah diekspolitasi siapapun.

Sumber Pratama Persadha
Reaksi: 

Related

Tekno 3119183504082345181

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Random News

item