flatnews

Antara Inggris dan Maroko Abad 7: Potret Buruk Dunia Islam

Inggris dan Dinasti Sa’adi di Maroko, Maghrib pada abad ke 17 adalah dua negeri yang diuntungkan karena aktivitas pembajakan yang dilakukan ...



Inggris dan Dinasti Sa’adi di Maroko, Maghrib pada abad ke 17 adalah dua negeri yang diuntungkan karena aktivitas pembajakan yang dilakukan rakyatnya.
Baik Saadi dan Elizabeth I menghadapi fragmentasi politik. Namun, Inggris sukses melakukan konsolidasi politik dan perempuan perkasa ini mengantarkan Inggris menjadi penguasa dunia.
Pada awal yang sama, Saadi sukses mengusir Portugis dan lebih dari itu, membuat imperium dunia ini bangkrut dan bubar. Dua tahun kemudian, Portugis berada di bawah protektorat Spanyol. Namun ironisnya, kemenangan itu justru menjadi jalan disintegrasi Afrika Utara dan lebih dari itu, mengantar benua hitam dalam lembah perbudakan selama dua abad berikutnya.
Tiga modalitas Inggris yang tidak dimiliki Maghrib. Kepemimpinan visioner, masyarakat dinamis dan momentum politik. Secara teori, masyarakat yang dinamis akan melahirkan banyak momentum politik dan di bawah kepemimpinan yang visioner, pelbagai momentum itu sukses ditransformasikan menjadi kekuatan dan keunggulan politik. Inilah wajah Inggris tiga abad kemudian.
Secara sosial, Inggris mengalami transformasi besar-besaran seiring bangkitnya kelas baru pedagang. Mereka adalah para petani dan buruh yang kehilangan pekerjaan karena ekspansi para tuan tanah atas tanah garapan mereka.
Mereka membanjiri kota-kota besar Inggris untuk mencari penghidupan baru. Keberadaanya tidak disukai para bangsawan dan politikus karena membuat kumuh kota-kota besar Inggris. Alih-alih membuat keributan, mereka menyalurkan energi baru ke laut. Laut menjadi perbatasan baru dari aktivitas bisnis mereka, yakni membajak kapal-kapal Portugis dan Spanyol yang mengangkut jarahan dari bangsa Maya, Inca dan Aztek.
Dari sanalah, bangkit kelas baru pedagang (bajak laut) yang energik dan padat modal. Bisnis baru ini menjadi katalis perubahan sosial dan politik di Inggris dan penanda kematian sistem feodalisme Inggris. Perlawanan terhadap kelas baru ini dilakukan oleh kalangan bangsawan dan tuan tanah, namun mereka kalah dalam perdebatan di parlemen dan di tangan pemimpin yang responsif atas perubahan sosial.
Alih-alih melihatnya sebagai ancaman, kepemimpinan monarki Inggris secara cekatan mentransformasikan diri dengan perubahan dalam masyarakat dan menyalurkan energi yang bergairah dengan aktivitas baru mereka.
Fenomena tersebut tidak terjadi di dunia Islam. Dunia Islam berada di bawah kepemimpinan monarki absolut. Di bawah kepemimpinan yang malas dan bodoh, konstruksi politik ini hanya akan menjadi bencana. interaksi masyarakat hanya terbatas dengan penguasa lewat perintah dan larangan. Akibatnya, Inisiatif masyarakat tidak tumbuh dalam tipologi sosial dan politik semacam ini.
Hal ini menjelaskan mengapa kemenangan Saadi Maghrib atas Portugis dalam Pertempuran Al Qasr al Kabir (1578) hampir tidak memberikan nilai tambah bagi kejayaan Maghrib, alih-alih disintegrasi sosial dan politik. Kondisi ini diperburuk oleh kecenderungan sufistik di Maghribi yang mengisolasi diri sehingga menjadi faktor distruktif lainnya.
Hal yang berbeda, kekalahan Imperium Spanyol yang secara kelas lebih unggul dari angkatan laut Inggris di Selat Inggris dan Sungai Thames (1588) menjadi momentum kebangkitan Inggris.
Fenomena Maghribi adalah fenomena dan penyakit dunia Islam. Karena setelah itu, potret politik yang sama juga terjadi atas Dinasti Ustmani, Moghul dan Safawi seabad kemudian. Dan sayang potret gelap itu masih menggantung di dunia Islam hingga kini.
Kepemimpinan di banyak dunia Islam, termasuk Indonesia terlalu peduli dengan kepentingannya sendiri, gagal menangkap fenomena perubahan masyarakat, namun parahnya menganggap sebagai ancaman dan memusuhinya. Kini, energi kita habis untuk memusuhi anak bangsanya sendiri.

Sumber FB Ahmad Dzakirin

Related

Unik 1310649299935606231

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Random News

item