flatnews

Kolaborasi: Belajar dari Microsoft

Era kompetisi perlahan-lahan memudar. Kompetisi yang bertujuan untuk mengalahkan pesaing tidak lagi sesuai dengan zaman yang ber...


Era kompetisi perlahan-lahan memudar. Kompetisi yang bertujuan untuk mengalahkan pesaing tidak lagi sesuai dengan zaman yang bergerak serba cepat. Bahkan, keinginan yang kuat untuk berkompetisi seringkal menghancurkan sebuat organisasi. Sebut saja Microsoft saat akan melawan Apple diawal-awal kelahiran ipod dan ipad. Microsoft membuat gadget yang lebih canggih dari Apple, namun tak membawa perubahan. Begitulah Simon Sinek berbicara dalam bukunya The Infinite Game.

Lima tahun kalah oleh Apple, Microsoft mengganti CEO. Pria keturunan India, Satya Nadella, mengganti strategi secara signifikan. Alih-alih terus berhadapan dengan Apple, Satya merangkul Apple. Kejutan pertama adalah menghadirkan Microsoft Office di iPad pada 2014.

Tanggapan buruk bermunculan pada awal kebijakan ini. Namun pada akhirnya, publik melihat perkembangan Microsoft yang makin menggeliat dengan kebijakan baru ini.

Tak hanya kepada Apple, Nadella bahkan berkolaborasi dengan pesaing-pesaingnya. Linux, yang dahulu menjadi “musuh”, secara dramatis juga dirangkul. Microsoft love Linux menjadi sejarah kolaborasi kedua sistem yang dahulu saling bertentangan. Pada tahun 2016, Microsoft bergabung dengan Linux Foundation sebagai anggota platinum.

Terakhir yang saya dengar, Microsoft bekerjasama dengan Android untuk membangun ekosistem yang memungkinkan kedua sistem kompatibel. Microsoft unggul pada gadget laptop dan PC, sementara Android unggul pada mobile phone dan tablet. Memang, dalam hal ini Microsoft mencoba menyaingi Apple dengan ekosistem yang telah terpadu dari semua gadget.
Alih-alih mencoba memenangkan semua pertarungan seperti dahulu, Microsoft mencoba memfokuskan diri pada kekuatannya. Bukan untuk mengalahkan, akan tetapi untuk mempertajam. Mungkin inilah yang dinamakan “asahlah pada sisi tajam” yang berarti pertajam kekuatan.

Pada sektor-sektor yang tidak menjadi core, Microsoft bekerjasama dengan banyak mitra seperti IBM, Dropbox, dan lain-lain. Dengan kolaborasi ini, lahirlah kekuatan baru semisal Microsoft Azure.
Bukan tanpa alasan, Microsoft memang mengubah bisnisnya dengan fokus pada “produktivitas” dan cloud. Sehingga segala aktivitasnya mengarahkan pada arah itu.

“Microsoft membantu pelanggan mentransformasi bisnis mereka secara digital dengan teknologi cloud, kecerdasan buatan, dan mixed reality, sekaligus menjadi yang terdepan dalam lingkup komputasi.”

Microsoft Azure dan Microsoft 365 adalah bukti shifting bisnis Microsoft. Dan jika kita sadar, sudah hampir tidak ada Windows bajakan. Semua bisa instalasi dengan “Activated with a digital license linked to Microsoft Account”.

Dan semua ini terjadi karena value baru Microsoft yakni Emphasizing Empathy, Collaboration, and Growth Mindset.

Sumber FB Wawan Dinawan

Related

Tekno 8794517652681076646

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Random News

item