flatnews

Normalisasi Hubungan Turki-Mesir dan Saudi-Iran

  Berbicara tentang eskalasi ketegangan di sekitar Laut Hitam saat ini, tampaknya tidak akan terjadi perang beneran antara Rusia dengan NATO...

 


Berbicara tentang eskalasi ketegangan di sekitar Laut Hitam saat ini, tampaknya tidak akan terjadi perang beneran antara Rusia dengan NATO, karena harga yang harus dibayar terlalu mahal.
Apalagi zaman sekarang perang sistemnya proxy war, AS menarik pasukan dari Afghanistan setelah bercokol hampir 20 tahun, setelah kerugian hampir 3 triliun dolar, ribuan tentaranya tewas, puluhan ribu lainnya cedera permanen, tentunya senjata yang sudah kelaur dari gudang tidak akan kembali ke gudang, paling akan direlokasi ke Ukraina, biar militant dan separatis serta PMC saling berperang. Diantara faktor yang membuat perang terbuka Rusia-NATO tidak akan terjadi adalah, Presiden Biden sudah membatalkan rencana untuk mengirim dua kapal perang ke Laut Hitam, tinggal Inggris apakah mau lanjut mengirim kapal perang atau akan mengikuti langkah Biden, biarlah waktu yang menjawab.
Lebih menarik lagi konstelasi yang terjadi di negara Muslim di kawasan yang tidak jauh dari Laut Hitam itu, yaitu konstelasi hubungan Turki-Mesir yang tampaknya akan bersemi dan mungkin menuju bulan madu, dan konstelasi hubungan Arab Saudi-Iran yang mulai mencoba untuk membuka dialog, pendekatan hati ke hati.
Hari ini, Presiden RTE mengusulkan pendirian Parliamentary Friendship Group antara Turki dengan Mesir, dalam rangka normalisasi hubungan dengan Mesir yang sempat tegang dengan aksi saling menarik Duta Besar sejak kudeta terhadap mendiang presiden Muhammad Morsi dan sengketa akibat konflik Libya.
Minggu lalu, ketika Emir Qatar, Tamim Ben Hamad Al Thani menghubungi Presiden Abdel Fattah el-Sisi dan mengucapkan “Ramadhan Kareem ya Reis…”, Menlu Turki, Mevlud Cavuzoglu juga tidak ketinggalan menghubungi koleganya, Menlu Sameh Shoukry dan mengucapkan “Ramadhan Kareem ya Basha…”. Konstelasi ini mungkin awal dari babak akhir ketegangan antara kubu Turki-Qatar yang mendukung kelompok Ikhwanul Muslimin, dengan kubu Mesir yang menganggap kelompok IM sebagai oposisi terlarang.
Tidak hanya itu, Menlu Cavuzoglu juga mengatakan bahwa Turki dan Mesir akan memasuki “New Era” dan dalam waktu dekat delegasi Turki akan berkunjung ke Mesir. Sementara di dalam negeri Turki sendiri, untuk membuktikan keseriusan Turki, otoritas media Turki mulai membatasi gerakan media IM yang selama ini berpusat di Istanbul yang sering mengkritisi kebijakan pemerintah Mesir, dan khususnya Presiden Al Sisi.
Langkah Emir Qatar menunjukkan komitmennya atas kesepakatan Al Ola Summit yang mengakhiri embargo atas Qatar. Sementara Presiden RTE menyambut niat baik Mesir dengan membuka komunikasi bilateral, pasca pengakuan Mesir atau perbatasan maritim kedua negara di Laut Tengah.
Kedua, dialog Arab Saudi-Iran yang dimediasi oleh Irak di Baghdad, meskipun hingga saat ini Arab Saudi menyangkal adanya pertemuan tersebut. Namun sejumlah media Arab dan Barat mengkonfirmasi berita tersebut, seperti Reuters, AFP dan Financial Times.
Delegasi Arab Saudi dipimpin oleh Direktur Intelijen Arab Saudi, Khalid bin Ali Al Humaidan, sementara delegasi Iran dipimpin oleh Jend. Ali Shamkhani, Sekjen Dewan Keamanan Nasional Iran. Kabarnya dialog tersebut membahas isu-isu seksi antara kedua negara, utamanya perang Yaman dan krisis Lebanon.
Anehnya Arab Saudi menyangkal dengan keras adanya pertemuan tersebut, entah kenapa. Kalau Arab Saudi menyangkal adanya pertemuan Neom Secret-meeting antara MBS dengan PM. Netanyahu dengan mediasi Menlu AS, Mike Pompeo, itu sangat wajar, karena akan dianggap pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina. Tetapi untuk apa menyangkal dengan keras adanya pertemuan dengan Iran, pertama keduanya sama-sama negara muslim, dan keduanya tetangga. Lagian, negara besar P5+1 saja secara terbuka dan tanpa gengsi melakukan dialog dengan Iran, bahkan sekarang AS mulai memberikan konsesi kepada Iran supaya kembali kepada JCPOA 2015.
Berbicara tentang kesepakatan Nuklir Iran, kalau pertemuan di Wina beberapa hari yang lalu gagal mencapai kesepakatan, maka Timur Tengah berpotensi dihadapkan pada dua pilihan, perang besar atau Iran bergabung dengan Nuclear Country Club.
Menlu Israel, Gabi Ashkenazi dalam KTT dengan Menlu Yunani dan Sipruas mengatakan Israel akan melakukan segala hal untuk menghalangi Iran memilik senjata nuklir. Sabotase Israel ke Natanz Nuclear facility di Iran minggu lalu dibalas Iran dengan peningkatan pengayaan uranium dari 20 persen menjadi 60 persen. Bukankah Menlu AS, Anthony Blinken beberapa waktu lalu pernah mengatakan, “Iran is weeks away from having material to build nuclear bomb”.
Kalau Turki bisa akur kembali dengan Mesir, dan Iran bisa akur kembali dengan Arab Saudi, maka banyak konflik di kawasan akan berakhir…

Sumber FB Saief Alemdar


Related

Internasional 898994174335587330

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

Recent

Comments

Random News

item